Larangan kawin
se-Sumbay
oleh : Kurniawan Saputra
Di suatu desa adat yang bernama Benuwakeling, hiduplah seorang anak muda
yang bernama Mesatan. Ia merupakan orang yang tampan,
pendiam namun ia tidak
suka bergabung dengan warga sekitar rumahnya.
Suatu
hari, Mesatan bertemu dengan seorang perempuan cantik yang bernama Riti. Riti saat itu sedang menjemur pakaian di samping rumahnya. Mesatan mencoba mendekati Riti, “bolehkah saya bantu menjemur pakaiannya Riti ? “ tanya Mesatan. “tidak usah Mesatan, saya bisa menjemur
pakaian ini sendiri ! “ jawab Riti dengan nada agak kesal. Mesatan pun kembali ke rumahnya
dengan raut wajah yang cukup kecewa dengan jawaban Riti tadi.
Saat
Riti ingin menuju
sungai Lematang untuk mencuci pakaian, ia
bertemu pemuda tampan yang tak lain adalah Mesatan. Riti langsung menghampiri Mesatan dan meminta maaf atas kejadian kemarin. “Mengapa kamu meminta maaf ? ” tanya Mesatan. “maaf ya atas kejadian kemarin, saya menolak bantuan kamu saat saya menjemur pakaian kemarin, saya telah membentak kamu, namun setelah aku pikir-pikir, betapa jahatnya aku menolak bantuan dari orang lain, apalagi dengan membentaknya, maaf ya... “ pinta Riti. Mesatan sedikit bingung dengan sikap Riti yang berbeda dengan saat ia pertama bertemu kemarin. “ iya, tidak apa-apa, saya maafkan “ jawab Mesatan sambil tersenyum. Mesatan sedikit terpaku saat melihat wajah Riti yang cantik. Riti merasa bingung melihat Mesatan yang memandanginya sampai tak berkedip lagi. “ hus, kenapa kamu melamun ? “ tanya Riti. Mesatan terkejut, “ ma.. maaf, wajah kamu cantik sekali, kamu mau tidak jadi pacarku ? “ cetus Mesatan. Riti terdiam sejenak, “ kamu serius Mesatan ? “ tanya Riti. “ iya, aku serius, kamu mau jadi pacarku ? “ jelas Mesatan. “ i.. iya, aku mau” jawab Riti sambil tersenyum.
bertemu pemuda tampan yang tak lain adalah Mesatan. Riti langsung menghampiri Mesatan dan meminta maaf atas kejadian kemarin. “Mengapa kamu meminta maaf ? ” tanya Mesatan. “maaf ya atas kejadian kemarin, saya menolak bantuan kamu saat saya menjemur pakaian kemarin, saya telah membentak kamu, namun setelah aku pikir-pikir, betapa jahatnya aku menolak bantuan dari orang lain, apalagi dengan membentaknya, maaf ya... “ pinta Riti. Mesatan sedikit bingung dengan sikap Riti yang berbeda dengan saat ia pertama bertemu kemarin. “ iya, tidak apa-apa, saya maafkan “ jawab Mesatan sambil tersenyum. Mesatan sedikit terpaku saat melihat wajah Riti yang cantik. Riti merasa bingung melihat Mesatan yang memandanginya sampai tak berkedip lagi. “ hus, kenapa kamu melamun ? “ tanya Riti. Mesatan terkejut, “ ma.. maaf, wajah kamu cantik sekali, kamu mau tidak jadi pacarku ? “ cetus Mesatan. Riti terdiam sejenak, “ kamu serius Mesatan ? “ tanya Riti. “ iya, aku serius, kamu mau jadi pacarku ? “ jelas Mesatan. “ i.. iya, aku mau” jawab Riti sambil tersenyum.
Setelah
kejadian itu, Mesatan
dan Riti tambah akrab
dan lebih mengenal
satu sama lain. Setelah hubungan mereka sudah
berjalan sekitar lima bulan,
Mesatan berfikiran untuk menikah
dengan Riti. Mesatan
langsung menuju rumah
Riti untuk melamar Riti. Setibanya
di rumah Riti, Mesatan menjelaskan maksud kedatangannya
ke rumah Riti. “Riti,
maksud kedatangan saya ke
sini untuk melamar
kamu, apa kamu
mau jadi istriku ? ” terang Mesatan. Disela-sela pembicaraan mereka, ada seorang warga yang mendengar kabar bahwa mereka
(Mesatan dan Riti)
akan menikah. Warga itu langsung menuju rumah
Juraytuwe
(pemangku adat) yang
letaknya tidak jauh dari
rumah Riti.
Warga itu melaporkan bahwa ada
dua orang anak
muda yang ingin
menikah, namun mereka berasal dari sumbay (keturunan yang sama,
yang berasal dari suatu wilayah adat besemah). Juraytuwe pun memerintahkan warga itu
untuk menyuruh Mesatan dan Riti untuk ke balay , mereka akan diberikan
penjelasan mengenai aturan adat
yang berlaku di besemah. Tanpa fikir
panjang, warga itu
langsung menuju rumah Riti. Kebetulan Riti dan Mesatan masih asik
berbincang mengenai rencana mereka untuk
menikah . “Selamat siang... Mesatan dan Riti, kalian disuruh
juraytuwe
untuk ke balay,
ada yang ingin
dibicarakan juraytuwe
kepada kalian. Dengan perasaan bingung, Mesatan dan Riti segera menuju ke
balay.
Setibanya mereka di
balay,
mereka melihat 6 orang
laki-laki sedang duduk
di atas lampik (tikar). Mesatan teringat dengan cerita almarhum kakeknya bahwa di
daerah besemah ini terdapat lembaga adat, lembaga pemerintahan adat, sekaligus sebagai lembaga hukum atau
lembaga peradilan dan lembaga perwakilan atau permusyawaratan yang disebut
Lampik Mpat Mardike Duwe. Mesatan berfikir bahwa mereka
akan diadili di balay itu, namun ia bingung, jika benar diadili,
apakah kesalahan yang telah
ia dan Riti
lakukan ? .
Dengan gugup, mereka masuk
kedalam balay dan
duduk ditengah-tengah laki-laki yang tidak lain adalah juraytuwe (pemangku adat) di dusun mereka. Mereka bertanya
kepada salah seorang
juraytuwe, “Mengapa kami disuruh
ke balay ini, apakah kami
ada salah ?
” Jawab juraytuwe “ Sebenarnya kalian hampir saja melanggar aturan adat besemah, yaitu kalian tidak
boleh menikah dengan orang yang
berasal dari sumbay yang sama” ,
seperti Mesatan yang tidak boleh menikah dengan Riti. Dikarenakan kalian berasal
dari sumbay yang sama, yaitu
Sumbay
ulu Lurah suku
Benuwakeling , untuk itu kami mengundang kalian untuk
datang ke balay
ini, untuk memberi penjelasan kepada kalian bahwa laki-laki
tidak boleh menikahi
perempuan yang berasal
dari sumbay
yang sama. Setelah mendengar penjelasan dari juraytuwe tersebut barulah mereka mengerti. Akhirnya mereka pulang
dengan raut muka
yang cukup kecewa
setelah mendengar penjelasan dari juraytuwe .
Hari demi hari
mereka lalui dengan
perasaan sedih yang terus
membayangi mereka. Namun, apa
boleh buat peraturan yang ada
harus ditaati walau itu membuat
mereka merasa sedih. Untuk
itu, akhirnya mereka harus
memilih jalan hidup
sendiri-sendiri serta mencari pasangan hidup yang berasal dari luar sumbay mereka.
Larangan kawin
se-Sumbay
Ade
duson adat ndek bename Benuwakeling,
diduson benuwakeling ade
bujang ndek bename
Mesatan, jemenye belagak,
pemendam, anye dindak
begabung ngai jeme
sebaya di paghak
ghumah’e.
Suatu aghi,
mesatan betemu ngai
betine alap ndek
bename Riti. Waktu Riti
Njemur baju di
sebelah ghumah’e, Mesatan ndekati
Riti. Kate Mesatan
“pacak aku bantu
dide njemur baju
kaba tu?”. “dide
usah, aku pacak
njemur baju diwe !“ kate
Riti. Mesatan langsong
balek ke ghumah’e
ngai rase kecewa.
Waktu Riti
ke Lematang nak
nyuci baju, die
betemu ngai bujang
belagak, ngkase mesatan ndek
negur die kemaghi. Riti
langsong nggari Mesatan, ngicek minta
maaf tentang kejadian
kemaghi. Mesatan agak
bingung ngai sikap
Riti laen kemaghi
ngai saghini. Mesatan
tediam nginak dai
Riti ndek alap. Riti
bingung pule nginak
mesatan ngina’i die
saje. Udem tu
Mesatan mulai merayu-rayu
Riti. Engkase Riti anjam
pule ngai Mesatan.
Laju ciwe’an jeme
bedue tu.
Udem kejadian
itu, Mesatan ngai
Riti tambah akrab.
Setelah ciwe’an lah
lime bulan, Mesatan
befikir nak melamar
Riti. Langsonglah Mesatan
ke ghumah Riti
nak ngelamar’e. Ngiceklah
Mesatan ngai Riti
bahwa die nak
ngelamar Riti. Anye,
dang Mesatan ngicek
ngai Riti nak
melamar’e, ade jeme
ndek ndengar. Langsong
lah laporkanye ngai juraytuwe. Bada
juraytuwe dek jaoh
ngai ghumah Riti.
Kate jeme tadi
ade ndek nak
kawin, anye die
tu sandi sumbay
ndek same. Juraytuwe pun
langsong ngajong jemetu
mantau Mesatan ngai
Riti, ajong ke balay
, ade
ndek nak ku
kicek kah.
Tefikirlah Mesatan
ngai Lampik Mpat Mardike
Duwe. Kate almarhum
nininge, di besemah
ne ade lembage adat,
lembage pemerintahan adat,
sekaligus sebagai lembage
hukum atau lembage
peradilan dan lembage
perwakilan atau permusyawaratan ndek
disebut Lampik Mpat
Mardike Duwe . Rase
gemetagh mesatan ngai
Riti masok balay. Mesatan
bingung ngape die
ngai riti di
ajong ke balay,
langsong betanye lah
Mesatan tadi ngai juraytuwe ndek
ade di sane , “ngape
aku ngai Riti
di ajong ke balay
ne, ape kami
ade salah?“ tanye Mesatan.
Jawab salah satu
juraytuwe, “ sebenare kamu
tu lah hampir
melanggar aturan adat
besemah, soale kamu
bedue tu berasal
sandi sumbay ndek same,
yaitu “Sumbay Ulu Lurah
Suku Benuwakeling”. Udem juraytuwe ngicek,
Mesatan ngai Riti
mpai kruan bahwa
di besemah ne
ade aturan bahwa
dek ilok kawin
ngai jeme ndek
berasal sandi sumbay ndek
same. Langsong balek
laju Mesatan ngai
Riti.
Hari demi
hari dilalui die
bedue ngai perasaan
sedeh ndek trus
mbayangi Mesatan Ngai
Riti. Anye, ape
boleh buat peraturan
ndek lah ade
harus ditaati mpok
titu mbuat mereka
merase sedeh. Untuk
itu, akhire mereka
harus milih jalan
idop diwe’-diwe’ serta
ncakagh pasangan idop
ndek berasal sandi
luar sumbay mereka.
semoga banyak yang baca... :)
BalasHapus